Bung Karno
menerima surat untuk segera
meninggalkan Istana Merdeka dalam
waktu 2 x 24 jam.
Bung Karno tidak diberi waktu
untuk menginventarisir
barang-barang pribadinya.
Wajah-wajah tentara yang
mengusir Bung Karno juga
tak bersahabat.
“Bapak harus cepat
meninggalkan Istana ini
dalam waktu dua hari dari
sekarang!” tegas mereka.
Bung Karno pergi ke ruang
makan dan melihat Guruh
sedang membaca sesuatu
disana.
“Mana kakak-kakakmu?” tanya Bung
Karno. Guruh menoleh ke arah bapaknya
lantas berkata, “Mereka pergi ke rumah
Ibu”. Rumah ibu yang dimaksud adalah
rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya,
Kebayoran Baru.
Bung Karno berkata lagi, “Mas Guruh,
Bapak
tidak boleh lagi tinggal di Istana ini
lagi, kamu persiapkan barang-barangmu.
Jangan kamu ambil lukisan atau hal lain,
itu punya negara,” kata Bung Karno, lalu
Bung Karno melangkah ke arah ruang
tamu Istana.
Disana ia mengumpulkan semua ajudan-
ajudannya yang setia.
Beberapa
ajudannya sudah tidak kelihatan, ia
maklum. Ajudan itu sudah ditangkapi
karena diduga terlibat Gestapu.
“Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana
ini lagi. Kalian jangan mengambil apapun.
Lukisan-lukisan itu, souvenir dan macam-
macam barang. Itu milik negara,” begitu
Beliau berpesan.
Semua ajudan menangis
saat tahu Bung Karno mau pergi. “Kenapa
Bapak tidak melawan, kenapa dari dulu
bapak tidak melawan?” salah satu ajudan
separuh berteriak memprotes tindakan
diam Bung Karno.
Biarlah kami patungan dari
uang kami untuk masak agak enak dari
biasanya.” Sejak hari-hari sebelumnya,
militer memang setengah menyetop
pasokan dana ke dapur Istana, tempat
Bung Karno dan keluarganya makan.
Ah, sudahlah,” ujar Bung Karno sambil
tertawa. “Sayur lodeh basi tiga hari itu
malah enak, kalian masak sayur lodeh
saja. Aku ini perlunya apa.”
Di hari kedua, saat Bung Karno sedang
membenahi baju-bajunya, datang perwira
suruhan Orde Baru. “Pak, Bapak harus
segera meninggalkan tempat ini”. Terlihat
beberapa tentara sudah memasuki ruang
tamu dan menyebar sampai ke ruang
makan. Mereka juga berdiri di depan Bung
Karno dengan senapan terhunus.
Bung Karno segera mencari koran bekas
di pojok kamar.
Dalam pikirannya, Bung
Karno takut bendera pusaka akan diambil
oleh tentara. Lalu dengan cepat Bung
Karno membungkus bendera pusaka
dengan koran bekas dan ia masukkan ke
dalam kaos oblong. Bung Karno berdiri
sebentar menatap tentara-tentara itu,
namun beberapa perwira mendorong
tubuh Bung Karno untuk keluar kamar.
Sesaat ia melihat wajah ajudannya,
Saelan. “Aku pergi dulu,” kata Bung Karno
terburu-buru. “Bapak tidak berpakaian
rapih dulu, Pak?” Saelan separuh
berteriak. Bung Karno hanya mengibaskan
tangannya. Bung Karno langsung naik VW
Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia
punya dan meminta sopir
mengantarkannya ke Ja
lan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.
lan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.
Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya
duduk seharian saja di pojokan halaman,
matanya kosong. Ia meminta bendera
pusaka dirawat hati-hati. Bung Karno
kerjanya hanya mengguntingi daun-daun
di halaman. Kadang-kadang ia
memegangi dadanya yang sakit. Ia sakit
ginjal parah namun obat yang biasanya
diberikan sudah tidak boleh diberikan.
Sisa obat di Istana telah dibuangi.
Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan
berkata, “Pak, bawa dukunya ke orang
yang ada di dalam mobil”. Tukang duku
itu berjalan dan mendekat ke arah Bung
Karno. “Mau pilih mana, Pak? Manis-
manis, nih.” sahut tukang duku dengan
logat betawi kental. Bung Karno dengan
tersenyum senang berkata,
“coba kamu cari yang enak.”
Tukang duku itu mengernyitkan dahinya.
Ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas
tukang duku itu berteriak,
“Bapak… Bapak…. Bapak… Itu Bapak…
BAPAAK!!!”
Tukang duku malah berlarian ke arah
teman-temannya di pinggir jalan. ”Ada
Pak Karno, Ada Pak Karno….”
Mereka
berlarian ke arah mobil VW Kodok warna
putih itu dan dengan serta merta para
tukang buah memberikan aneka buah-
buah pada Bung Karno.
Awalnya Bung Karno tertawa senang. Ia
terbiasa menikmati kebersamaan dengan
rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan
dalam pikiran Bung Karno: ia takut rakyat
yang tidak tahu apa-apa ini lantas
digelandang tentara gara-gara dekat
dengan dirinya.
“Tri, berangkat! Cepat!” perintah Bung
Karno. Ia melambaikan tangan ke
rakyatnya yang terus-menerus memanggil
namanya. Bahkan ada yang sampai
menitikkan air mata. Mereka tahu
pemimpinnya dalam keadaan susah.
Mengetahui bahwa Bung Karno sering
keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat
beberapa perwira pro Suharto tidak suka.
Tiba-tiba satu malam ada satu truk (truk?
ya ampun!) ke rumah Fatmawati dan
mereka memindahkan Bung Karno ke
Bogor.
Di Bogor ia dirawat oleh dokter hewan. Ya,
kau tak salah dengar. Proklamator negara
kita ini di akhir masanya dirawat oleh
dokter hewan.
Dan penderitaan Bapak belum berhenti
sampai sana.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar